Apakah Hukum Membatalkan Puasa jika kita sedang mimisan dan gusi berdarah?

Apakah Hukum membatalkan Puasa jika kita sedang mimisan atau gusi Berdarah?


Izzul Islam. Apakah hukum berpuasa pada saat sedang mimisan (keluar darah hidung) dapat dibatalkan dan diganti pada hari lain tanpa membayar kafarat atau denda? 

Pertanyaan ini sering di ajukan namun untuk menjawabnya secara sistematis mari kita bahas dulu tentang pelanggaran puasa yang harus membayar kafarat atau denda. Kafarat adalah denda yang diberikan kepada seseorang karena telah melakukan dosa membatalkan puasa sedang dia tidak dalam keadaan terdesak atau termasuk dalam kategori orang yang boleh membatalkan puasa. Hal ini dilakukan karena dengan sengaja melakukan hal-hal yang dapat membatalkan puasa.

Kafarat dilakukan melalui tiga dan boleh dipilih secara berturut-turut yakni membebaskan budak, jika tidak mampu maka berpuasa selama dua bulan berturut-turut atau yang terakhir memberi makan fakir miskin sebanyak 60 orang. Hal ini sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW yang disampaikan oleh Abu Hurairah RA
 
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ قَالَ مَا لَكَ قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ وَ فِيْ رِوَايَةٍ أَصَبْتُ أَهْلِيْ فِيْ رَمَضَانَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا قَالَ لَا قَالَ فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ لَا فَقَالَ فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا قَالَ لَا قَالَ فَمَكَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ- وَالْعَرَقُ الْمِكْتَلُ- قَالَ أَيْنَ السَّائِلُ فَقَالَ أَنَا قَالَ خُذْهَا فَتَصَدَّقْ بِهِ فَقَالَ الرَّجُلُ عَلَى أَفْقَرَ مِنِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا -يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ -أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datanglah seseorang sambil berkata: “Wahai, Rasulullah, celaka !” Beliau menjawab,”Ada apa denganmu?” Dia berkata,”Aku berhubungan dengan istriku, padahal aku sedang berpuasa.” (Dalam riwayat lain berbunyi : aku berhubungan dengan istriku di bulan Ramadhan). Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Apakah kamu mempunyai budak untuk dimerdekakan?” Dia menjawab,”Tidak!” Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi,”Mampukah kamu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Dia menjawab,”Ttidak.” Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi : “Mampukah kamu memberi makan enam puluh orang miskin?” Dia menjawab,”Tidak.” Lalu Rasulullah diam sebentar. Dalam keadaan seperti ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi satu ‘irq berisi kurma –Al irq adalah alat takaran- (maka) Beliau berkata: “Mana orang yang bertanya tadi?” Dia menjawab,”Saya orangnya.” Beliau berkata lagi: “Ambillah ini dan bersedekahlah dengannya!” Kemudian orang tersebut berkata: “Apakah kepada orang yang lebih fakir dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada di dua ujung kota Madinah satu keluarga yang lebih fakir dari keluargaku”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa sampai tampak gigi taringnya, kemudian (Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berkata: “Berilah makan keluargamu!”

Hukum Mebatalkan Puasa Bagi Orang yang Mimisan dan Gusi Berdarah.


Keluarnya darah dari hidung seseorang yang dikenal dengan istilah mimisan atau Istihadzah tidak membatalkan puasa. Keluar darah yang dapat membatalkan puasa atau menjadikan seseorang gugur dalam menjalankan puasa kemudian di Qhada adalah darah kotor dari persalinan, nifas dan juga darah haid sedangkan mimisan tidak menggugurkan puasa.

Adapun perkara bekam seperti hadits yang sampaikan oleh Abu Hirairah RA sebagian ulama menganggapnya telah gugur karena adanya contoh yang diberikan langsung oleh Rasulullah SAW yakni berbekam sedang Rasulullah sedang berpuasa, namun jika bekam tersebut mengeluarkan banyak darah dan membuat lemas dan dipaksakan maka dalam kasus ada unsur kesengajaan yang dilakukan padahal bekam tersebut bisa ditunda sampai waktu berbuka puasa telah tiba.

Membatalkan puasa wajib pada saat mimisan, tidak boleh jika mimisan tersebut hanya mengeluarkan sedikit darah, namun jika terjadi pendarahan yang amat banyak dan dapat membahayakan nyawa makan puasa boleh dibatalkan dan diganti pada hari lain. Allah SWT tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan sesuai dengan firmanya pada QS Al-Baqarah: 286. Hal ini tidak berlaku untuk mimisan saja, tetapi penyakit lain seperti kambuhnya Maag dan perasaan sakit yang teramat yang berpotensi membahayakan nyawa ketika puasa tetap diteruskan maka hukumnya boleh di Qhada pada saat sehat dan di luar bulan Ramadhan sedangkan puasa sunnah tidak perlu di Qhada. Allahu a'lam.
Apakah Hukum Membatalkan Puasa jika kita sedang mimisan dan gusi berdarah?

0 Response to "Apakah Hukum Membatalkan Puasa jika kita sedang mimisan dan gusi berdarah?"

Posting Komentar